Minggu, 24 Juni 2012

BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI “RESUME TANAMAN KEDELAI”


BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI
“RESUME TANAMAN KEDELAI”




OLEH :
            PRASETYO SIAGIAN 
              (D1A009112)




AGROEKOTEKNOLOGI (C/3)
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011



1.Fluktuasi data permintaan dan produksi kedelai ?
            Produksi kedelai di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu sebanyak 1,87 juta ton. Namun setelah itu, produksi terus mengalami penurunan hingga hanya 0,672 juta ton pada tahun 2003. Artinya, dalam 11 tahun produksi kedelai merosot mencapai 64 persen. Sebaliknya, konsumsi kedelai cenderung meningkat sehingga impor kedelai juga mengalami peningkatan mencapai 1,307 juta ton pada tahun 2004 (hampir dua kali produksi nasional) (Tabel 1). Impor ini berdampak menghabiskan devisa negara sekitar Rp.3 triliun per tahun. Selain itu, impor bungkil kedelai telah mencapai 1,3 juta ton per tahun yang menghabiskan devisa negara sekitar Rp. 2 triliun per tahun (Atman, 2006a; Alimoeso, 2006).

            Proyeksi konsumsi kedelai terlihat bahwa total kebutuhan terus mengalami peningkatan dari 2,35 juta ton pada tahun 2009 menjadi 2,71 juta ton pada tahun 2015 dan 3,35 juta ton pada tahun 2025 (Tabel 2). Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1,5 t/ha bisa dicapai, maka kebutuhan areal tanam diperkirakan sebesar 1,81 juta ha pada tahun 2015 dan 2,24 juta ha pada tahun 2025 (Simatupang,  et al., 2005). Tantangannya adalah bagaimana mencapai areal tanam tersebut sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija lainnya yang lebih kompetitif.



2.Solusi dalam swasembada pangan ?
STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI
            Sampai saat ini, produksi kedelai di tingkat petani masih rendah, rata-rata 1,3 t/ha dengan kisaran 0,6-2,0 t/ha, sedangkan potensi hasilnya bisa mencapai 3,0 t/ha. Senjang produktivitas yang sangat besar tersebut memberikan peluang bahwa peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas di tingkat petani masih bisa dilakukan.  Menurut Subandi (2007), paling tidak ada lima strategi penting yang harus dilaksanakan untuk menjamin keberhasilan peningkatan produksi kedelai nasional, yaitu: (1) Perbaikan harga jual; (2) Pemanfaatan potensi lahan; (3) Intensifikasi pertanaman; (4) Perbaikan proses produksi; dan (5) Konsistensi program dan kesungguhan aparat.
1. Perbaikan Harga Jual
            Harga jual yang rendah di tingkat petani sehingga kurang kompetitif dibandingkan komoditas palawija lainnya, merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan petani kurang berminat membudidayakan kedelai. Peningkatan harga jual di tingkat petani merupakan kunci utama dalam mengembalikan minat petani untuk menanam kedelai.  Untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia, pemerintah terpaksa melakukan impor kedelai, terutama dari negara Amerika Serikat sebagai pengekspor utama. Terjadinya perubahan kebijakan pengelolaanlahan pertanian di Amerika Serikat dari tanaman kedelai ke tanaman jagung (sebagai sumber ethanol) menyebabkan produksi kedelai dunia mulai berkurang sementara permintaan selalu meningkat. Akibatnya, selain harga kedelai di pasaran dunia dan lokal yang naik lebih dari dua kali lipat, ketersediaan kedelai di pasar juga sudah mulai langka.  Harga kedelai di pasar dunia akhir-akhir ini meningkat tajam. Pada awal tahun 2007 harga kedelai hanya  $300 US per ton, meningkat menjadi $600 US per ton pada akhir tahun 2007 (Puslitbangtan, 2008). Hal ini berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai di dalam negeri. Pada awal tahun 2007 harga eceran kedelai sekitar Rp.3.000 per kg, naik menjadi Rp.8.000 per kg, bahkan di beberapa daerah mencapai Rp.10.000 per kg. Kondisi ini memberi peluang kembali bagi peningkatan produksi kedelai di Indonesia sekaligus meningkatkan pendapatan petani dengan harga yang lebih tinggi dan lebih kompetitif dibanding komoditas palawija lainnya.
2. Pemanfaatan Potensi Lahan
            Pemanfaatan potensi lahan yang tersedia untuk mendukung peningkatan produksi kedelai antara lain dapat dilakukan dengan penanaman kedelai sebagai tanaman utama ataupun sebagai tanaman sela, diantaranya penanaman kedelai secara tumpang sari dengan ubikayu, kelapa sawit, kelapa, atau tanaman tua lainnya. Menurut Subandi (2007), dengan menerapkan teknologi maju, kedelai yang ditumpang sarikan dengan ubikayu dapat berproduksi mencapai 2 t/ha sedangkan ubikayu 30 t/ha. Selain itu, pemanfaatan potensi lahan bera setelah panen padi sawah juga dapat mendukung peningkatan produksi kedelai utamanya pada lahan sawah tadah hujan, lahan sawah irigasi desa, dan lahan sawah irigasi sederhana. Menurut Atman (2006b), biasanya lahan ini dibiarkan bera setelah panen padi untuk waktu cukup lama (1-3 bulan). Pemanfaatan lahan ini untuk budidaya kedelai dapat meningkatkan indeks pertanaman yang hanya 170% menjadi 200-250% per tahun, dengan pola tanam padi-kedelai-padi dan hasil yang cukup tinggi. Hasil penelitian Hamzah,  et al. (1987), penanaman kedelai pada setelah padi sawah tanpa pengolahan tanah mampu memberikan hasil sampai 2,3 t/ha di Aceh dan 1,97 t/ha di Sumatera Barat.
3. Intensifikasi Pertanaman
            Intensifikasi pertanaman untuk mendukung peningkatan produksi kedelai antara lain dapat dilakukan melalui perluasan areal tanam. Perluasan areal tanam tidak hanya dilakukan pada daerah-daerah yang sebelumnya menjadi sentra produksi kedelai tetapi juga membuka daerah-daerah pertumbuhan baru. Menurut BBSDLP (2008), dari identifikasi biofisik sumberdaya lahan di 17 propinsi di Indonesia didapatkan 17,7 juta ha lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai, terdiri dari 5,3 juta ha berpotensi tinggi, 3,1 juta ha berpotensi sedang, dan 9,3 juta ha berpotensi rendah (Tabel 3). Pengembangan kedelai sebaiknya diprioritaskan pada propinsi yang memiliki lahan berpotensi tinggi cukup luas, seperti: Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Papua barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Bila lahan berpotensi sedang juga diperhitungkan maka kedelai dapat juga dikembangkan di Lampung, N.A. Darusalam, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tenggara.
4. Perbaikan Proses Produksi
            Proses produksi yang mampu memberikan produktivitas tinggi, efisien, dan berkelanjutan yakni melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Menurut Balitkabi (2008), PTT adalah salah satu pendekatan dalam usahatani yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi. Dalam implementasi-nya, PTT mengintegrasikan komponen teknologi pengelolaan lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu tanaman (LATO) secara terpadu.
5.  Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat
            Membangun sistem usaha agribisnis kedelai memerlukan komitmen/program yang kuat antara pemerintah, swasta (agroindustri) dan petani, agar keberlanjutan usaha yang saling menguntungkan dapat terjamin. Sejak era Orde Baru (Orba) sampai era Reformasi yang dilanjutkan dengan era Otonomi Daerah (Otoda), pemerintah telah menempuh banyak kebijakan dalam mengembangkan kedelai di Indonesia yang memiliki tujuan yang sama meskipun nama programnya berbeda. Era Orba, kebijakan pengembangan kedelai ditempuh melalui: (i) kebijaksanaan harga yang berorierntasi pada produsen; (ii) Pengembangan paket teknologi; (iii) Subsidi sarana produksi; dan (iv) pengendalian impor dan perdagangan dalam negeri (Puslitbangtan, 1991).  Dalam era Reformasi sampai Otoda, kebijakan pengembangan kedelai terus dilanjutkan dengan berbagai program yang berorientasi produksi, seperti Gema Palagung dan Proksi Mantap (Hafsah dan Sudaryanto, 2004). Kemudian tahun 2006-2010, pemerintah mencanangkanprogram ”BANGKIT KEDELAI”, singkatan dari Pengembangan Khusus dan Intensif Kedelai. Program ini bertujuan untuk membangkitkan gairah petani dalam mengembangkan kedelai melalui upaya peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, kemitraan, dan lain-lain. Meskipun program pengembangan kedelai sudah banyak dilaksanakan, namun ada kecenderungan bahwa produksi kedelai baru meningkat ketika ada program pengembangan dari pemerintah (Atman, 2006c). Untuk itu, kesinambungan dan konsistensi program termasuk pendanaannya harus mendapat perhatian dan alokasi yang sepadan. Atman dan Hosen (2008) menyarankan untuk pengembangan agribisnis kedelai diperlukan sebuah gerakan yang dikomandoi oleh Pemerintah Daerah dengan tetap mengacu pada kebijakan pengembangan kedelai secara  nasional, seperti subsidi harga dan lainnya. Untuk menjalankan Program Pemerintah Daerah ini, beberapa saran diajukan kepada pengambil kebijakan di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota, yaitu: (i) Memanfaatkan lahan yang sudah diusahakan secara optimal (sawah dan lahan kering) untuk kedelai tanpa mengurangi areal tanam tanaman yang sudah ada; (ii) Pengusahaan kedelai oleh petani harus menerapkan inovasi baru agar efisiensi usaha dapat dicapai dan kompetitif dengan komoditas pangan lainnya; dan (iii) program penanaman kedelai di lahan sawah tadah hujan dan irigasi sederhana, sebaiknya menjadi program prioritas.

3. Apa manfaat kedelai ?
Kacang kedelai yang diolah menjadi tepung kedelai secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok manfaat utama, yaitu: olahan dalam bentuk protein kedelai dan minyak kedelai. Dalam bentuk protein kedelai dapat digunakan sebagai bahan industri makanan yang diolah menjadi: susu, vetsin, kue-kue, permen dan daging nabati serta sebagai bahan industri bukan makanan seperti : kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil. Sedangkan olahan dalam bentuk minyak kedelai digunakan sebagai bahan industri makanan dan non makanan. Industri makanan dari minyak kedelai yang digunakan sebagai bahan industri makanan berbentuk gliserida sebagai bahan untuk pembuatan minyak goreng, margarin dan bahanlemak lainnya. Sedangkan dalam bentuk lecithin dibuat antara lain: margarin, kue, tinta, kosmetika, insectisida dan farmasi.
4. Asal usul tanaman kedelai ?
Kedelai  merupakan  tanaman  asli  Daratan  Cina  dan  telah dibudidayakan  oleh  manusia  sejak  2500  SM.  Sejalan  dengan  makin berkembangnya  perdagangan  antarnegara  yang  terjadi  pada  awal  abad ke-19,  menyebabkan  tanaman  kedalai  juga  ikut  tersebar  ke  berbagai negara  tujuan  perdagangan  tersebut,  yaitu  Jepang,  Korea,  Indonesia, India,  Australia,  dan  Amerika.  Kedelai  mulai  dikenal  di  Indonesia  sejak abad  ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan  kedelai  yaitu di Pulau  Jawa,  kemudian berkembang  ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya. Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine  soja  dan  Soja  max.  Namun  pada  tahun  1948  telah  disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill.
 Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut :

Divisio    : Spermatophyta
Classis  : Dicotyledoneae
Ordo    : Rosales
Familia  : Papilionaceae
Genus    : Glycine
Species  : Glycine max (L.) Merill

5. Bagaimana swasembada kedelai di inonesia ?
Menteri Pertanian, Suswono, mengatakan Indonesia menargetkan swasembada kedelai pada 2014, dan salah satunya menjadikan Lahat, Sumatera Selatan, lumbungnya.

Menteri Pertanian mengemukakan hal itu saat melakukan kunjungan kerja dan panen raya kedelai pada Senin di Desa Pagarjati, Kecamatan Kikim Selatan, Lahat.

Menurut dia, selama ini dari semua lokasi penanaman dan pengembangan tanaman kedelai di Indonesia, baru di Lahat yang bisa mencapai hasil panen sangat membanggakan.

Disebutkan, setiap 1 hektare lahan dapat menghasilkan 2,6 ton kedelai, sementara sebelumnya hanya sekitar 1,3 ton saja.

"Kerja keras dan dedikasi semua kalangan, khususnya petani, sangat membanggakan. Hal ini sudah dibuktikan petani di Kabupaten Lahat," kata Suswono.

Ke depan, kata dia, tinggal bagaimana trik dan kiat khusus yang akan dilaksanakan dalam pengelolaan dan pendistribusiannya saja. Bahkan, target 2014--jika hasil positif terus ditunjukkan di lapangan seperti ini--jelas semuanya akan mampu dicapai.

Dikatakan, keberhasilan akan dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan pengelolaan tanaman terpadu, perluasan lahan pertanian, serta hingga pengamanan produksi dan penguatan kelembagaan.

"Kemudian ke depan pembiayaan bidang ini akan lebih difokuskan oleh pihak Kementerian Pertanian Indonesia. Namun, harus didukung penuh Pemprov Sumsel dan Pemkab Lahat," katanya.

Proposal skripsi (PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH INCEPTISOL NAMOTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays l.) )


PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH INCEPTISOL NAMOTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays l.)

Proposal skripsi

Prasetyo siagian
D1a009112





AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011




BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Benih merupakan suatu sarana yang penting dalam produksi pertanian dan menjadi pembawa perubahan teknologi dalam pertanian. Peningkatan produksi tanaman hortikultura disebabkan oleh penggunaan benih varietas unggul disertai teknik budidaya yang lebih baik dibandingkan masa sebelumnya (Sumpema, 2005).
Perkecambahan biji adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji seperti calon akar (radicle), calon daun/ batang (plumula). Dengan demikian ada 2 jenis aktivitas yaitu aktivitas morfologis dan aktivitas kimiawi. Aktivitas morfologis ditandai dengan adanya organ-organ tanaman seperti akar, batang, daun sedangkan aktivitas kimiawi diawali dengan aktivitas hormon dan enzim yang menyebabkan aktivitas perombakan zat cadangan makanan seperti karbo hidrat, protein, lemak (Ashari, 1995).
Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat kepada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanam-tanaman. Biasanya zat-zat tersebut cukup terdapat dalam tanah untuk keperluan tanaman, tetapi pada pemupukan tersebut pengaruhnya tidak langsung pada saat diperlukan, misalnya mempengaruhi pH tanah dan memperbaiki lingkungan keadaan tanah. Bahan-bahan semacam itu disebut juga bahan perbaikan (http://www.tanindo.com, 2010).
Andisol terdapat di wilayah volkan, seringkali di lereng gunung. Tanah ini terbentuk dalam bahan abu volkan dan mempunyai horison A molik atau umbruik berwarna tua, horison B kambik. Bahan abu sangat ringan, bersifat amorf, tidak terkristal baik yang menyebabkan konsistensi tanah lemak, tanah andisol bersifat tiksotropik (Burigh, 2000).

              Data analisis tanah Andisol dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa andisol memiliki tekstur yang bervariasi dari berliat sampai berlempung kasar. Reaksi tanah umumnya bersifat masam, kandungan bahan organik lapisan atas sedang dampai tinggi dan lapisan bawahnya umumnya rendah dengan rasio C/N tergolong rendah. Kandungan P dan K potensial bervariasi ,mulai dari rendah sampai tinggi, jumlah basa dapat ditukarkan, KTK tanah sebagian besat sedang sampai tinggi dengan KB sedang. Dengan demikian potensial kesuburan andisol dinilai tergolong sedang sampai tinggi (Damanik, dkk; 2010).



I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Kimia Pada Tanah Andisol Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung ( Zea mays L.) Dengan Metode Substraksi.

I.3 Hipotesis Percobaan

- Pemberian pupuk kimia pada tanah Andisol dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman Jagung ( Zea mays L. ).
- Pertumbuhan jagung pada tanah Andisol cukup baik.

I.4 Kegunaan Percobaan

- Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Ilm Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.







BAB II. BAHAN DAN METODE
II.1 Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilakukan di lahan Fakultas Pertanian, Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi, dengan ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut. Percobaan ini dilaksanakan pada Desember 2010 sampai Januari 2011.
II.2Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah Inceptisol Namotrasi yang digunakan sebagai tanah percobaan, pupuk urea, sp-36, MOP, dan kiserit yang digunakan sebagai pupuk, bibit jagung yang digunakan sebagai bibit yang akan ditanam, label nama yang digunakan untuk menamai polybag, air yang digunakan untuk menyiram tanaman setiap hari.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah polybag yang digunakan sebagai media tanam, plastik kecil yang digunakan sebagai tempat pupuk yng akan dipakai, cangkul yang digunakan untuk mengamil tanah dari tempatnya, goni yang digunakan sebagai tempat tanah, ayakan yang diunakan untuk mengayak tanah, label nama yang digunakansebagai penanda percobaan, batu bata sebagai tempat tumpuan polybag, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong utuk mengukur diameter batang tanaman, buku data untuk tempat menulis dta pengamatan, alat tulis untuk menulis data pengamatan, cawan yang digunakan untuk tempat tanah kering oven, oven untuk mengeringkan tanah, spanduk untuk pembatas lahan.

II.3 Metode Percobaan

Adapun metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode subtraksi.



II.4 Prosedur Percobaan
Pengambilan contoh tanah di Lapangan
- Dikunjungi lokasi contoh tanah yang akan diambil seminggu sebelum pengambilan.
- Diambil tanah secara komposit di areal mendalo.
- Diambil contoh tanah pada setiap titik dari areal atau lokasi pada kedalaman 0-20 cm.
- Digunakan metode zig zag pada pengambilan tanah yang digunakan.

Penanganan contoh tanah di Laboratorium
- Dikeringudarakan tanah di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg.
- Dihitung terlebih dahulu BTKU kemudian diovenkan dan ditimbang sehingga didapatkan BTKO.

Penanganan di Lahan
- Diletakkan batu bata di lahan.
- Dipindahkan polibag berisi tanah ke lahan dan diletakkan di atas batu bata.
- Ditanam benih jagung ke dalam masing-masing polibag sebanyak 3 benih.
- Disiram setiap hari dan diamati pertumbuhan tanaman jagung.
- Dibersihkan lahan dari gulma seminggu sekali agar terhindar dari hama.
- Dipasang spanduk untuk menghidari serangan hama.

II.5 Pelaksanaan Percobaan

Pengambilan Contoh Tanah
Laboratorium
Tanah dikeringudarakan di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg. Lapangan
Tanah Inseptisol diambil secara komposit di areal mendalo. Pada setiap titik dari areal atau lokasi, contoh tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm. Tanah ini diambil pada bulan Februari. Metode pengambilan tanah yang digunakan adalah metode zigzag.


Pemupukan
Pemberian pupuk dilakukan sehari sebelum tanam sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Pupuk dicampur dengan tanah dalam polybag sehomogen mungkin.
Penanaman Tanaman Indikator
Benih tanaman indikator ditanam sebanyak 3 butir di dalam setiap polybag.
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman yang dilakukan setiap hari denan air PAM atau yang berasal dari air hujan.
Peubah Amatan
Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur 1 Minggu setelah tanam dan diukur setiap hari kamis. Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan penggaris atau meteran.
Jumlah Daun
Jumlah daun diukur setiap hari kamis. Di dalam penghitungan jumlah daun juga diamati bagaimana kondisi dari daun.
Diameter Batang
Diameter batang diukur setiap hari kamis. Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong.
Berat Kelobot
Berat kelobot dihitung saat panen. Berat kelobot ini dihitung dengan menggunakan timbangan.
Berat Kering
Akar
Berat kering akar dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan.
Batang
Berat kering batang dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan


DAFTAR PUSTAKA

  • Anonimous, 2010a. Jagung. Http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010b. Syarat Tumbuh Jagung. Http://nugrohobarnito.blog.plasa.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010c. Budidaya Jagung. Http://teknis-budidaya.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010d. Jagung. Http://wahyuaskari.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010e. Unsur Hara. Http://www.o-fish.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010¬f. Jagung. Http://www.tanindo.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Anonimous, 2010g. Unsur Hara pada Tanaman. Http://yudhiwijaya.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.
  • Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI-Press, Jakarta.
  • Damanik, M. M. B, B. E. H. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin, dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU-Press, Medan.
  • Darmawijaya, M. I. 1999. Klasifikasi Tanah. UGM-Press, Yogyakarta.
  • Rayes, L. M. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit ANDI, Yogyakarta.
  • Rosmarkam, A., dan N. W. Yuwono, 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  • Rukmana, H. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  • Steenis, C. G. G. J. V, 1975. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Pradnyaparamita, Jakarta.
  • Sumpema, U. 2005. Benih Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta.
  • Sutedjo, M. M, 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.
  • Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah. Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media, Yogyakarta.




Sabtu, 23 Juni 2012

proposal penelitian ( PENGARUH WAKTU INOKULASI PENYAKIT LALAT PENGGOROK DAUN Liriomyza sp. (DIPTERA:AGROMYZIDAE) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum) )


PENGARUH WAKTU INOKULASI PENYAKIT LALAT PENGGOROK DAUN
Liriomyza sp. (DIPTERA:AGROMYZIDAE)
 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum)



METODE ILMIAH


NAMA : PRASETYO SIAGIAN
NIM : D1A009112


AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010

PENDAHULUAN
Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salah satu jenis  sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di  daerah tropika seperti di Indonesia.  Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya .Komoditi tersebut banyak diusahakan di lahan kering baik dataran tinggi maupun dataran rendah. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan  produksi cabai merah yang lebih kompetitif, diperlukan upaya peningkatan produksi yang mengacu pada peningkatan efisiensi baik ekonomi, mutu  maupun produktivitas melalui penerapan teknologi mulai dari penentuan lokasi, penanganan benih, penanaman, pemeliharaan, hingga penanganan panen yang tepat. (Slameto, Bambang Wijayanto ,Zakiah ,2008)
Cabai merah (Capsium annum L.) merupakan tanaman hortikultura sayur-sayuran buah semusim untuk rempah-rempah, yang di perlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Kebutuhan terhadap mata dagangan ini semakin meningkat  sejalan dengan makin bervariasinya jenis dan menu makanan yang memanfaatkan produk ini. Selain itu, cabai merah sebagai rempah-rempah merupakan salah satu mata dagangan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi petani dan pengusaha. Karena selain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga termasuk mata dagangan yang mempunyai peluang pemasaran ekspor non migas yang sangat baik. 
Kebutuhan akan cabai merah, diduga masih dapat ditingkatkan dengan pesat sejalan dengan kenaikan  pendapatan dan atau jumlah penduduk sebagaimana terlihat dari trend permintaan yang cenderung meningkat yaitu tahun 1988 sebesar 4,45 kg/kapita, menjadi sebesar 2,88 kg/kapita pada tahun 1990, dan pada tahun 1992 mencapai sebesar 3,16 kg/kapita. 
Sekalipun  ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi permintaan terhadap cabai merah untuk kebutuhan sehari-hari dapat berfluktuasi, yang disebabkan karena tingkat harga yang terjadi di pasar eceran. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi permintaan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran. Dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi pada kondisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang diminta. Hal inilah yang mengakibatkan harga akan sangat tinggi. Demikian pula terjadi sebaliknya sehingga harga sangat rendah.
Beberapa faktor pendukung yang bersifat teknologi (non kelembagaan) yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis budidaya cabai merah berskala usaha kecil, guna mengantisipasi peluang permintaan di atas sebenarnya masih dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan. Penataannya mencakup perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus produksi, yang dimulai dari : (i) proses persiapan dan pembuatan pembibitan cabai merah, (ii) penyediaan benih cabai merah yang unggul dan bebas dari penyakit virus, (iii) persiapan lahan budidaya, (iv) penerapan teknologi penanaman cabai merah, (v) pemeliharaan tanaman, (vi) proses panen, (vii) proses penanganan hasil panen dan (viii) distribusi dan pemasaran hasil panen (produksi cabai merah).  Perbaikan terhadap faktor pendukung penerapan teknologi tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk dapat menekan resiko kegagalan produksi sampai pada tingkat yang sekecil mungkin.  (Yuliantoro Baliadi dan Wedanimbi Tengkano,2010 )
 Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.)
Hama ini menyerang sejak dari persemaian sampai tanaman dewasa. Serangan serangga dewasa pada daun ditandai oleh bercak-bercak putih bekas tusukan ovipositor. Serangan berat  akan mengakibatkan daun mengering seperti terbakar. Gejala serangan oleh larva berupa alur-alur putih pada permukaan daun.

 Imago (a), larva (b), pupa (c), dan gejala kerusakan oleh serangan Liriomyza sp. pada  tanaman cabai (d)


Kosmopolitan Pengganggu Krisan Selain merusak penampilan, serangan Liriomyza spp. mengakibatkan berkurangnya area fotosintesis, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Hama ini mewabah hampir di seluruh dunia tempat krisan ditanam.  

         Gejala serangan Liriomyza spp Sungguh mengenaskan bila krisan harus mati dimakan hama sebelum berkembang., karena orang menikmati tanaman ini dari keindahan bentuk dan warna bunganya. Serangan hama sudah menjadi resiko tanaman hias bunga potong ini yang biasanya dibudidayakan di bawah naungan seperti halnya mawar.

Berbeda dengan gladiol dan sedap malam yang umum dibudidayakan di lahan terbuka.
Perbedaan lingkungan tanaman mempengaruhi jenis hama yang dominan pada lingkungan tersebut. 

Mempengaruhi pula cara pengendalian hama utamanya. Meskipun ambang kendali hama pada tanaman hias sangat rendah, umumnya petani hanya mengandalkan pada pestisida sistesa yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman hias-terutama yang bernilai tinggi dan dapat diekspor-, memerlukan perlindungan dari organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang sangat intensif. Apalagi buyer di luar negeri menghendaki produk tanaman hias dengan standar kulitas yang tinggi seperti harus memenuhi kriteria indah, tumbuh sempurna, mulus dan tidak ada gangguan OPT.

       Karenanya, pemasyarakatan pengendalian hama terpadu (PHT) kepada petani tanaman hias sangat perlu ditanamkan dalam rangka meningkatkan produksi tanaman hias yang berkelanjutan dan berwawasan agribisnis. Salah satu OPT yang harus diwaspadai adalah lalat pengorok daun yang disebabkan oleh Liriomyza chrysanthemi, L. Huidobrensis, L. Trifolii, (ordo : diptera ; Famili :Agromyzidea)

       Laporan serangan lalat pengorok daun pada krisan dari daerah memang belum banyak masuk sampai saat ini. Namun demikian hasil penelitian akibat serangan larva lalat pengorok daun pada tanaman krisan, dapat menimbulkan kehilangan hasil, antara 76-86%. Pada serangan berat tingkat kerusakan bahkan mencapai lebih dari 90%. 

            Lalat pengorok daun selain menyerang tanaman hias juga bisa menyerang tanaman sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar. Jenis tanaman yang diserang meliputi kentang, tomat, seledri, wortel, ketimun, caisin, bit, selada, kacang merah, kubis, cabai, bawang merah, buncis, terung, semangka, bayam liar, dan lain-lain. Bila dilihat dari banyaknya tanaman inang ini memungkinkan daya pencar yang cepat sehingga dapat menimbulkan dampak terhadap tanaman budidaya yang diusahakan oleh petani.

         Lalat pengorok daun dapat diidentifikasi melalui panjang tubuhnya, yakni antara 1,7-2,3 mm. Sebagian besar tubuhnya berwarna hitam mengkilap, kecuali skutelum dan bagian samping toraks serta bagian tengah berwarna kuning. Telurnya berwarna putih benang, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm. Larva berwarna putih susu atau putih kekuning-kuningan, dan yang sudah berusia lanjut berukuran ± 3,5 mm. Puparium berwarna kuning keemasan hingga coklat kekuningan berukuran 2,5 mm. Siklus hidup lalat pengorok daun berkisar antara 22-25 hari, dan stadium pupa 9-12 hari. Imago betina mampu hidup selama 6-14 hari, dan imago jantan 3-9 hari. 

         Lalat ini bersifat kosmopolitan, artinya tersebar luas di berbagai bagian dunia tempat krisan ditanam. Serangga dewasa adalah sejenis lalat yang menusuk daun yang masih lunak ketika makan ataupun ketika meletakkan telur. Lalat mengorok jaringan di bawah epidermis daun dan membuat saluran-saluran yang tidak beraturan terutama di daerah pinggir daun. Pada saat akan berkempompong larva membuat lubang untuk keluar lalau berkepompong di tanah.

          Gejala serangan lalat pengorok daun terjadi karena lalat ini memakan jaringan daun di bawah epidermis, sehingga terbentuk saluran-saluran bekas korokannya yang berwarna putih dengan diameter 1,5-2,0 mm. Pada serangan berat daun akan tampak putih karena yang tersisa hanya lapisan tipis bagian luar daun saja. Selain merusak penampilan, serangan hama ini dapat mengakibatkan berkurangnya area fotosintesis, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terganggu.

          Budidaya tanaman sehat cukup membantu mentoleransi pengaruh kerusakan akibat hama ini teruatama pada fase vegetatif pertmbuhan tanaman. Budidaya secara sehat dapat dilakukan anatara lain dengan sanitasi lingkungan melalui membersihkan gulma, pemupukan berimbang, dan secara kultur teknis yaitu dengan menimbun bagian tanaman yang terserang.




















Tujuan penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon tanaman cabai merah ( C.annum ).pada fase pertumbuhan dan perkembangan terhadap serangan lalat penggorok daun liriomyza sp. (diptera:agromyzidae).

Kegunaan penelitian
            Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi perlindungan tanaman bagi pihak – pihak yang membutuhkan dalam melakukan pengendalian patogen atau serangan hama tanaman pada tanaman cabai merah ( C. annum L.) secara efektif.

Hipotesis
            Adanya perbedaan respon tanamn cabai merah ( C.annum) pada fase pertumbuhan danperkembangan (fase vegetatif dan generative ) akibat infeksi lalat penggorok daun liriomyza sp. (diptera:agromyzidae).

BAHAN DAN METODE 
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah : benih cabai merah ( C.annum) dan lalat penggorok daun liriomyza sp. Yang di dapat dari tanaman yang telah terinfeksi
Alat-alat yang digunakan sebagai berikut :  pot plastik dengan diameter  21 cm,polibag ,pupuk kandang,
Penelitian menggunakan metode  percobaan  dengan Rancangan Acak Kelompok ,
terdiri atas empat  perlakuan.  4 perlakuan tersebut  adalah tanaman cabai diinokulasi dengan :
1). cabai merah ( C.annum) dan tanpa liriomyza sp, 2)  cabai merah ( C.annum)  +  10 larva liriomyza sp, 3) cabai merah ( C.annum)  + 30 larva liriomyza sp, 4) Meloidogyne  spp. + 50 larva liriomyza sp

METODE ILMIAH PROPOSAL PENELITIAN


METODE ILMIAH
PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH WAKTU INOKULASI PENYAKIT LALAT PENGGOROK DAUN
Liriomyza sp. (DIPTERA:AGROMYZIDAE)
 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI







NAMA : PRASETYO SIAGIAN
NIM : D1A009112


AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010




I.PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
Kedelai merupakan bahan baku makanan yang bergizi seperti tahu dan tempe. Hampir semua lapisan masyarakat menyukai makanan yang terbuat dari kedelai. Bagi petani, tanaman ini penting untuk menambah pendapatan karena dapat segera dijual dan harganya tinggi.
Kedelai  merupakan  tanaman  asli  Daratan  Cina  dan  telah dibudidayakan  oleh  manusia  sejak  2500  SM.  Sejalan  dengan  makin berkembangnya  perdagangan  antarnegara  yang  terjadi  pada  awal  abad ke-19,  menyebabkan  tanaman  kedalai  juga  ikut  tersebar  ke  berbagai negara  tujuan  perdagangan  tersebut,  yaitu  Jepang,  Korea,  Indonesia, India,  Australia,  dan  Amerika.  Kedelai  mulai  dikenal  di  Indonesia  sejak abad  ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan  kedelai  yaitu di Pulau  Jawa,  kemudian berkembang  ke Bali,Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya.
Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine  soja  dan  Soja  max.  Namun  pada  tahun  1948  telah  disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut :

Divisio    : Spermatophyta
Classis  : Dicotyledoneae
Ordo    : Rosales
Familia  : Papilionaceae
Genus    : Glycine
Species  : Glycine max (L.) Merill

Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) ditemukan menginfestasi tanaman kedelai pada tahun 2007. Larva lalat pengorok daun merusak daun kedelai dengan membuat liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun dan berpotensi menurunkan hasil hingga 20%. Selain pada kedelai, gejala serangan yang sama juga ditemukan pada kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang, komak, kacang adzuki, buncis, dan 42 jenis tanaman lainnya termasuk gulma. Empat spesies lalat pengorok daun yang diketahui menginfestasi tanaman kedelai adalah  L. sativae, L. trifolii,  L. huidobrensis, dan  L. bryoniae. Pengendalian kimia dapat menimbulkan masalah karena lalat memiliki kemampuan genetik yang tinggi untuk menjadi tahan terhadap insektisida kimia.Pada habitat aslinya (subtropis), Liriomyza sp. tergolong serangga berstrategi-r, yaitu memiliki kemampuan reproduksi tinggi, cepat mengkoloni habitat, dan kisaran inangnya luas. Habitat tropis dengan ketersediaan tanaman inang sepanjang tahun dan penggunaan insektisida kimia yang kurang bijaksana memungkinkan lalat pengorok daun menjadi hama penting pada kedelai. Pada habitat alaminya, populasi lalat pengorok daun rendah akibat pengendalian alami oleh parasitoid dan predator, salah satunya adalah parasitoid Hemiptarsenus varicornis. Oleh karena itu, perlu disiapkan teknologi pengendalian yang lebih memberdayakan peran musuh alami daripada insektisida kimia. Makalah ini menelaah gejala dan akibat serangan lalat pengorok daun, spesies dan biologi, tanaman inang, musuh alami, pemantauan, dan rekomendasi pengendaliannya.
Gejala berupa liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun, belakangan ini banyak ditemukan pada daun tanaman kedelai di Indonesia. Jumlah alur korokan pada satu daun kedelai bervariasi, bergantung pada jumlah larva yang menetas. Pada serangan lanjut, liang korokan berubah warna menjadi kecoklatan dan di dalamnya larva berkembang. Gejala tersebut merupakan ciri khas serangan lalat pengorok daun, Liriomyza sp. (Diptera: Agromyzidae).
Hingga tahun 2007, Liriomyza sp.belum dinyatakan sebagai hama pada tanaman kedelai di Indonesia (Tengkano dan Soehardjan 1985; Marwoto dan Hardiningsih 2007; Baliadi et al. 2008),walaupun pada tahun 2005 gejala serangannya pada tanaman kedelai telah ditemukan di Sumatera Selatan (Tengkano et al. 2006), Jawa Timur, Jawa Barat, Bali,dan Lombok (Tengkano  et al. 2006;Tengkano 2007). Empat spesies  lalat pengorok daun yang menginfestasi tanaman kedelai di Asia Tenggara adalah L. sativae, L. trifolii, L. huidobrensis, dan L. bryoniae  (Tokumaru dan Abe 2006). Hofsvang et al. (2005) menyatakan bahwa L. sativae adalah spesies yang invasive pada tanaman kedelai di Asia Tenggara.Tanaman kedelai yang terserang pada stadia awal rentan terhadap penyakit tular tanah yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani. Serangan berat dapat menyebabkan daun kedelai gugur lebih dini (Baliadi 2009). Laju fotosintesis daun yang terserang Liriomyza sp. menjadi rendah (Trumble et al. 1985) dan liang korokan berfungsi sebagai prekursor serangan patogen cendawan (Price dan Harbaugh 1981) dan virus (Zitter dan Tsai 1977). Oleh karena itu, Liriomyza  sp. berpotensi menjadi hama penting pada tanaman kedelai. Saat ini, informasi mengenai dampak serangan lalat pengorok daun pada tanaman kedelai di Indonesia sangat terbatas. Kurangnya penelitian tentang lalat pengorok daun pada tanaman kedelai menyebabkan belum diketahuinya tingkat kerusakan serangan hama ini dan pengaruhnya terhadap hasil panen.
Gejala serangan lalat pengorok daun pada tanaman kedelai mudah dikenali dengan adanya liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun. Apabila liang korokan tersebut dibuka, akan terlihat larva yang aktif bergerak. Larva hidup dan makan di dalam liang korokan. Pada satu helaian daun kedelai dapat dijumpai lebih dari satu liang korokan. Pada serangan lanjut, warna liang korokan berubah menjadi kecoklatan, daun layu, dan gugur
Imago lalat pengorok daun menusukkan opivositornya pada daun-daun muda,walaupun gejala juga muncul pada daun - daun yang muncul berikutnya (Baliadi2009). Reed  et al. (1989) menyatakan, serangan imago L. cicerina pada kacang arab (Cicer arietinum) menimbulkan gejala bintik-bintik pada daun.
Gejala serangan larva lalat pengorok daun menyebar pada semua bagian tajuk tanaman kedelai, baik tajuk atas, tengah, maupun bawah. Namun, gejala serangan lebih banyak dijumpai pada daun/tajuk bagian bawah. Jumlah dan umur daun mempengaruhi kerapatan larva pada tanaman (Baliadi 2009). Purnomo et al. (2003) mengemukakan bahwa larva lebih banyak dijumpai pada tajuk bagian bawah tanaman kacang endul.
Kerusakan yang disebabkan oleh Liriomyza sp. pada tanaman dibedakan menjadi dua, yakni kerusakan langsung dan tidak langsung. Kerusakan langsung disebabkan oleh perilaku makan larva. Aktivitas larva dapat menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman (Trumble et al. 1985). Kerusakan tersebut terjadi pada jaringan palisade daun saat larva membuat liang korokan serpentin. Serangan berat mengakibatkan desikasi dan pengguguran daun lebih dini. Kehilangan hasil akibat korokan pada kedelai berkisar antara 15− 20% (Baliadi 2009). Kerusakan tidak langsung terjadi karena tusukan-tusukan pada permukaan daun menyebabkan tanaman kedelai rentan terhadap serangan patogen tular tanah. Hal serupa terjadi pada tanaman kacang hijau (Baliadi 2009). Price dan Harbaugh (1981) melaporkan bahwa serangan Pseudomonas  cichorii meningkat pada  tanaman krisan yang terserang L. trifolii. Sementara itu Zitter dan Tsai (1977) menyatakan virus mosaic kedelai juga dapat ditularkan oleh Liriomyza.Data tentang tingkat kerusakan pada tanaman kedelai diperlukan sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengendalian. Penentuan nilai ambang ekonomi atau ambang merusak cukup sulit karena hubungan antara kerapatan populasi lalat dan kerusakan daun dengan penurunan hasil  panen dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu musim, cara budi daya, dan kerentanan tanaman inang. Ambang merusak  L. bryoniae pada tanaman tomat adalah 15 liang korokan per daun (Ledieu dan Heyler 1982). Jumlah liang korokan 30  dan 60 buah/daun  dapat menurunkan hasil tomat masing-masing 10% dan 20%.


1.2.Tujuan penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon tanaman cabai merah ( C.annum L.) pada fase pertumbuhan dan perkembangan terhadap serangan lalat pengorok daun, liriomyza sp. (diptera:agromyzidae).

1.3.Kegunaan penelitian
            Penelitian dapat digunakan sebagai bahan infornasi perlindungan bagi pihak – pihak yang membutuhkan dalam melakukan pegendalian pathogen khususnya lalat pengorok daun, liriomyza sp. (diptera:agromyzidae).
            Dan salah satu syarat dalam pemberian nilai pada mata kuliah metode penulisan ilmiah.
1.4.Hipotesis 
            Adanya perbedaan respon tanaman cabai merah (C.annum L.) pada fase pertumbuhan dan perkembangan akibat serangan lalat pengorok daun, liriomyza sp. (diptera:agromyzidae).

II.METODE PENELITIAN

2.1.tempat dan waktu penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tanaman dan Rumah Kaca fakultas Pertanian Universitas Jambi selama  . . . . .sampai . . . 2009

2.2.Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Liriomyza sp.yang diambil dari lapangan,pupuk kandang ,pasir dan tanah ,kain kasa,gelas aqua ukuran 220 ml ,benih kacang kedelai varietas local.
            Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag ukuran 5 kg,stoples, timbangan, kuas kecil , kelambu,meteran dan ayakan tanah.

2.3.rancangan penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ),yang terdiri atas 4 perlakuan yaitu :
A0 : Tanaman control
A1 :tanaman kedelai di infes dengan lalat pengorok pada umur 10 hari setelah semai.
A2 :Tanamn kedelai diinfes dengan lalat pengorok sebanyak 5 ekor pada umur 10 hari setelah                                         
        Tanam
A3 :Tanamn kedelai diinfes dengan lalat pengorok sebanyak 5 ekor pada umur 10 hari setelah                                        
        Muncul pembungaan pertama.
Masing – masing perlakuan sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 unit percobaan.

2.4. Pelaksanaan penelitian
2.4.1.pengadaan lalat penggorok
            Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) didapat dari pertanaman tanaman kedelai di d
aerah jaluko . kemudian di simpan dalam toples selama 2 minggu dan pakan nya diganti setiap hari .

2.4.2,Penyemaian benih kedelai
            Benih disemai pada gelas aqua ukuran 220 ml ,yang berisi tanah,pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1 dalam satu gelas tersebut di tanam 3 benih sampai 10 hari setelah semai.

3.4.3 persiapan media tanam
            Media tanam terdiri dari tanah , pasir, dan pupuk kandangdengan perbandingan 2:1:1.setelah itu dimasukkan kedalam polybag ,masing – masing polybag diisi dengan 5 kg media.
  
 3.4.3 penanaman tanamn kedelai
            Setelah bibit berumur 14 hari,dan bibit – bibit dipindahkan ke polibag yang sudah diisi dengan media tanam,masing – masing dengan membuat lubang tanam memakai tugal dengan kedalaman antara 1,5 – 2 cm. Setiap lubang tanam diisi sebanyak 3 – 4 biji dan diupayakan 2  biji  yang  bisa  tumbuh.




3.4.5 pelepasan Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) pada tanaman kedelai
            Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) di infeksikan pada tanaman kedelai sesuai dengan perlakuan ,dimana pelepasan lalat penggorok dilakukan saat tanaman berumur 10 hari pembibitan,10 hari pembibitan setelah tanam dan 10 hari pembibitan setelah muncul bunga pertama kemudian diamati sampai produksi pertama.

3.4.6. uji hayati
            Uji hayati dilakukan untuk memastikan ada tidaknya liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun. Uji ini dilakukan dengan cara menginfeksi lalat penggorok daun yang diambil dari perlakuan .


3.5. pengamatan
3.5.1. intensitas serangan
            Pengamatan tingkat serangan dilakukan setelah timbulnya gejala pertama pada tanaman. Pengamatan dengan interval waktu 2 hari sampai produksi pertam .menrut Feronika (2001). Intensitas serangan dihitung berdasarkan skala penyakit yang telah dimodifikasi sebagai berikut :
0: tidak ada gejala serangan
1: <25% daun yang memperlihatkan gejala
2:25%
3:semua daun yang memperlihatkan gejala .
            Berdasarkan intensitas  penyakit dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

IP =     


Keterangan :
Ip adalah intensitas penyakit
Ki adalah tanaman yang terserang penyakit dengan skala n ( n =0,1,2,3)
N adalah jumlah tanaman yang ditanam polibag
Z adalah skala penyakit tertinggi.


3.5.2. Persentase  tanaman yang terserang
            Persentase tanaman yang terserang dihitung setelah produksi pertama dengan menhitung jumlah tanaman yang terserang dibagi dengan jumlah tanaman kesulurahan dikali 100%  atau

P =
 X 100 %

keterangan :  P adalah persentase tanaman yang terserang             
                      Q adalah jumlah tanaman yang terserang                                                                            
                      R adalah jumlah tanaman keselruhan

3.5.3.Tinggi tanaman
            Batang tanaman kedelai diukur dari pangkal batang sampai ujung tertinggi dari tanaman.Dengan mengukur tinggi tanaman mulai dari tanaman 10 hari pembibitan setelah perlakuan samapi berproduksi pertama.




3.5.5.Analisa data
            Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, maka data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis secara statistic dengan menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan new Multiple Range Test ( DnMRT ) Pada taraf 5%



















LAMPIRAN
Peta petak tanah
A01

A11
A31
A14
A06
A16
A21
A12
A36
A15
A02
A04
A35
A22
A03
A13
A33
A05
A25

A23
A32
A26
A34
A24
 



















A 0 1                            pengulangan


Perlakuan                perbandingan







DAFTAR PUSTAKA

Ø  Jurnal Litbang Pertanian, 11 januari 2010 LALAT PENGOROK DAUN, Liriomyza sp. (DIPTERA:AGROMYZIDAE), HAMA BARU PADA TANAMANKEDELAI DI INDONESIA,Yuliantoro Baliadi dan Wedanimbi Tengkano

Ø  Rukmana, S. K. dan Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca Panen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 92 hal.


Ø  Hidayat,  O.  D.  1985. Morfologi  Tanaman  Kedelai.  Hal  73-86.  Dalam  S. Somaatmadja et al. (Eds.). Puslitbangtan. Bogor.

Ø  Samsudin, H. 2008. Sebaran  Hemiptarsus,varicornis (Girault) (Hymenopetra: Eulo-pidae) parasitoid larva  Liriomyza spp.Lembaga Pertanian Sehat. http://www.pertaniansehat.or.id [2 April 2009].